thinkfreshly

just love our environment and think freshly

Kini yang tertinggal hanyalah nama…

on January 5, 2012

Bila kita medengar kata Menteng dan Kemang, sudah dipastikan masyarakat langsung berfikir tentang salah satu daerah elit yang terdapat di Jakarta. Daerah Menteng terletak di Jakarta Pusat. Menteng sebagian besarnya merupakan kawasan pemukiman elit dengan rumah-rumah besarnya. Menteng sangat identik dengan kaum borjuis. Tak heran salah satu band terkenal Indonesia sampai membuatkan lagu yang berjudul “anak menteng”. Bahkan seorang Obama dahulu pernah tinggal di daerah ini.
Daerah Kemang merupakan salah satu kawasan pusat hiburan dan gallery seni yang terletak di daerah Jakarta Selatan. Fasilitas hiburan malam dengan kafe-kafe nya yang menjamur membuat kawasan ini selalu ramai di malam hari. Mulai dari masyarakat biasa, artis, sampai para ekspatriat banyak yang memilih daerah ini sebagai tempat berkumpul. Tak heran Kemang menjadi icon tempat “anak nongkrong” zaman sekarang. Tak banyak yang tahu bahwa Menteng dan Kemang ini bukan hanya sekedar nama suatu daerah, tetapi juga nama dari jenis buah-buahan yang saat ini keberadaannya sudah sangat langka. Kemanakah buah Kemang dan Menteng yang saat ini justru sangat dikenal sebagai tempat nongkrong dan kawasan elit?

Kemang (Mangifera Kemanga) Kemang adalah pohon buah sejenis mangga dengan bau yang harum menusuk dan rasa yang masam manis. Pohon ini berkerabat dekat dan seringkali dianggap sama dengan binjai. Akan tetapi beberapa pakar menyarankan untuk memisahkannya dalam jenis tersendiri. Kemang menyebar secara alami di Sumatra, Kalimantan dan Semenanjung Malaya; dan banyak dibudidayakan di Jawa bagian barat, terutama dekat Bogor. Tumbuhan ini terutama menyebar di dataran rendah di bawah 400m, jarang hingga 800 m dpl. Jenis ini tahan terhadap penggenangan, dan seringkali
didapati tumbuh dekat tepi sungai.

Menteng (Baccaurea Racemosa) Menteng, kepundung, atau (ke)mundung (terutama Baccaurea racemosa (Reinw.) Muell. Arg.; juga B. javanica dan B. dulcis) adalah pohon penghasil buah dengan nama sama yang dapat dimakan. Sekilas buah menteng mirip dengan buah duku namun tajuk pohonnya berbeda. Rasa buahnya biasanya masam (kecut) meskipun ada pula yang manis. Menteng dulu biasa ditanam di pekarangan namun sekarang sudah sulit ditemui akibat desakan penduduk dan penanaman tanaman buah lain yang lebih disukai.

Konon, beberapa nama daerah di Jakarta, diambil dari nama pohon atau buah-buahan yang dulunya banyak terdapat di daerah tersebut. Seperti Kemang dan Menteng, sebut saja Kemanggisan, Gandaria City, Bintaro, Cempaka Putih, Kebon Sirih, Kebon Kacang, Kebon Nanas, Pondok Cabe, dan masih banyak yang lainnya. Tapi kini yang tertinggal hanyalah nama. Baik Kemang, Menteng ataupun buah-buahan yang lainnya yang saat ini sudah jarang ditemukan awalnya merupakan jenis tanaman pekarangan. Tanaman tersebut biasa tumbuh dan dipelihara di pekarangan rumah. Buah-buahan tersebut
sebagian besar asli berasal dari Indonesia yang beriklim tropis.

Keberadaan buah langka semakin dipudarkan dengan munculnya buah-buahan impor dari negara tetangga. Pola masyarakat yang konsumtif dan gengsi membuat buah-buahan impor menjadi bernilai tinggi. Padahal tidak semua buahan-buahan yang masuk adalah buah-buah yang bernilai gizi. Bahkan kabarnya buah-buah impor mengandung banyak zat kimia sebagai bahan pengawetnya. Seiring perkembangan zaman, Jakarta ini hidup sebagai kota megapolitan yang semakin padat penduduknya. Pekarangan-pekarangan rumah emakin habis karena dibuat bangunan baru. Taman-taman kota diubah menjadi mall-mall besar dan rawa/lahan kosong yang ada sudah dibangun menjadi apartemen mewah. Penduduk miskin yang tinggal di daerah kota akhirnya disingkirkan dan kemudian membangun tempat tinggal mereka di daerah padat penduduk ataupun daerah bantaran kali. Akibat dari perubahan tata guna lahan tersebut, memberikan dampak padaperubahan lingkungan dan ekosistemnya yang ada.

Di awal 90-an, saya masih ingat benar di daerah tempat saya tinggal, di sepanjang Kali Ciliwung banyak ditumbuhi pohon/ buah-buahan langka seperti lobi-lobi, jamblang, gandaria, kecapi, buni, kemang, dsb. Sepanjang DAS ciliwung menjadi habitat bagi hewan dan tumbuhan, bahkan Sungai Ciliwung sempat dijadikan obyek olahraga air, rafting, didukung dengan badan sungai yang lebar, dan air sungai yang bersih serta relief dari topografi Sungai itu sendiri. Saat ini Sungai Ciliwung kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Sungai Ciliwung yang notabene berfungsi sebagai kelas I (sumber air baku untuk air minum) sudah tidak memiliki daya dukung sebagaimana fungsinya. Pembangunan rumah di sekitar bantaran kali, pembuangan sampah yang tidak terkontrol dan pengambilan ikan dengan cara yang tidak berwawasan lingkungan, sampai perusakan hutan di sepanjang Sungai Ciliwung mengakibatkan hilangnya ekosistem di sepanjang sungai. Hutan kota yang dulunya rindang dan lebat, terdiri dari berbagai macam pohon-pohon buah seperti kemang, lobilobi, jamblang, buni, jambu mawar dan sebagainya kini sudah menghilang akibat penyempitan dan pendangkalan sungai. Yang memprihatinkan bukan hanya tumbuhan, tetapi satwa-satwa yang dahulunya ada disana sekarang juga sudah menghilang seiring menyempitnya wilayah sungai.

Di era globalisai ini manusia semakin caggih dengan bebagai fasiltas yang ada. Hubungan manusia dengan alam sekitar semakin memudar. Banyak masyarakat kota Jakarta yang hidup dengan konsep “one stop living concept”, dimana masyarakat tinggal, bekerja, belanja dan berlibur dalam satu kawasan saja. Tidak ada interaksi dengan lingkungan luar. Taman-taman kota saat ini tidak lagi berfungsi debagai tempat rekreasi . Masyarakat ibukota lebih bnayak meghabiskan waktu kosongnya untuk pergi ke mall, ataupun sekedar berkumpul di “tempat nongkrong”.

Sebagai warga Jakarta yang pernah merasakan tinggal dan besar di daerah yang sangat dekat dengan lingkungan sekitar, daerah yang asri dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan, rasanya sangat merasa kehilangan dengan perubahan lingkungan yang sangat berubah. Dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, alam sekitar sudah berubah, ekosistem semakin
hilang seiring dengan waktu. Dengan kondisi lingkungan yang sudah berubah diperlukan adanya kesinergian dalam kebijakan penataan ruang antara Pemerintah Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/Kota di Kawasan tersebut. Pembuatan taman-taman kota yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi bisa jadi dapat menambah sense of interest dari warga yang akan berkunjung. Bahkan kalau memang bisa diusahan di daerah-daerah yang mengambil nama buah sebagai nama daerahnya dibuatkan satu taman yang benar-benar dikhususkan untuk tanaman buah tersebut. Agar buah-buahan asli Indonesia bisa tetap hidup dan menjadi ciri khas di tiap daerah.

 

\disampaikan sebagai tugas makalah Ilmu Lingkungan- Rahayu Indah K.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: