thinkfreshly

just love our environment and think freshly

UNFCCC, Protokol Kyoto and REDD Plus

on January 5, 2012

UNFCCC (United Nation Convention on Climate Change) adalah sebuah kesepakatan yang akhirnya diterima secara universal sebagai komitmen politik internasional tentang perubahan iklim pada KTT Bumi tentang Lingkungan dan Pembangunan (United Conference on Environment and Development, UNCED) di Rio de Janeiro, Brazil, Juni 1992. Hingga saat ini jumlah anggota UNFCCC adalah 192 negara. UNFCCC bertujuan untuk menstabilkan konsentrasi GRK di atmosfir, pada taraf yang tidak membahayakan kehidupan organisme dan memungkinkan terjadinya adaptasi ekosistem, sehingga dapat menjamin ketersediaan pangan dan pembangunan berkelanjutan.

Institusi yang berperan dalam UNFCCC:

1. Conference of the Parties (COP)

2. Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA).

3. Subsidiary Body for Implementation (SBI).

4. Convention Secretariat

5. Global Environment Facility (GEF)

6. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

Conference of Parties (COP), yang berperan sebagai ’supreme body’ dan otoritas tertinggi dalam pembuatan keputusan Konvensi Perubahan Iklim, merupakan pertemuan tahunan yang mengumpulkan semua negara pihak (parties) anggota konvensi. COP bertanggung jawab untuk mengkaji ulang implementasi konvensi dan instrumen legal lainnya terkait dengan konvensi. Selain itu COP berkewajiban membuat keputusan yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas implementasi konvensi.

Dalam COP ketiga yang diselenggarakan di Kyoto tahun 1997, dalam konferensi tersebut menghasilkan consensus berupa keputusan untuk mengadopsi suatu protocol yang merupakan dasar bagi Negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), yang terdiri dari karbondioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC) dan sulfur heksaflourida (SF6), gabungan mereka paling seidkit 5% dari tingkat emisi tahun 1990 menjelang periode 2008-2012. Protocol itu disusun untuk mengatur target kuantitatif penurunan emisi dan target waktu penurunan emisi bagi Negara maju.

Protocol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang perubahan iklim UNFCCC, sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Protokol Kyoto terdiri daari 28 pasal dan 2 lampiran. Protocol Kyoto adalah sebuah perjanjian yang sah dimana Negara-negara maju/industry akan mengurangi emisi GRK mereka secara kolektif sebesar 5%. Protocol Kyot menyatakan bahwa Negara Annex I pada konvensi perubahan iklim harus mengurangi emisi melalui kebijakan dan langkah-langkah di dalam negeri.

Peranan Protokol Kyoto

  • Merumuskan mekanisme dan target penurunan emisi secara transparan
  • Mekanisme antar negara maju dan antara negara maju berkembang maju
  • Target penurunan emisi dalam perode komitmen pertama (2008 2012) sebesar 5% di bawah tingkat emisi tahun 1990 atau sebesar 13.7 Gt 2008-2012
  • Setiap negara maju ) memiliki komitmen yg berbeda sesuai dengan tingkat emisinya pada tahun 1990
  • Negara berkembang tidak memiliki obligasi untuk menurunkan emisi

Dalam pelaksanaanya, Protokol Kyoto menggunakan mekanisme yang dinamakan Flexible Mechanism, yang terdiri dari Mekanisme Pembangunan bersih (Clean Development Mechanism), Implemetasi Kerjasama (Joint Implementation), dan Perdagangan Karbon (Carbon Trading/ Emission Trading)

HUBUNGAN ANTARA UNFCCC, PROTOKOL KYOTO DAN REDD

REDD merupakan suatu pendekatan dan aksi yang dapat mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Seperti yang menjadi tujuan dari Protokol Kyoto dan UNFCCC sendiri yaitu adanya pengurangan emisi (emission reduction). REDD berpotensi mengurangi emisi GRK dengan biaya rendah dan waktu yang singkat dan pada saat yang sama membantu mengurangi tingkat kemiskinan dan memungkinkan pembangunan berkelanjutan.

REDD dianggap sebagai cara paling nyata, murah, cepat dan saling menguntungkan dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK); nyata karena seperlima dari emisi GRK berasal dari deforestasi dan degradasi hutan (DD); murah karena sebagian besar DD hanya menguntungkan secara marjinal sehingga pengurangan emisi GRK dari hutan akan lebih murah ketimbang alat atau instrumen mitigasi  lainnya; cepat karena pengurangan yang besar pada emisi GRK dapat dicapai dengan melakukan reformasi kebijakan dan tindakan-tindakan lain yang tidak tergantung pada inovasi teknologi; saling menguntungkan karena berpotensi untuk memperoleh pendapatan dalam jumlah besar dan perbaikan kepemerintahan dapat menguntungkan kaum miskin di negara-negara berkembang dan memberikan  manfaat lingkungan lain selain yang berkaitan dengan iklim.

REDD Plus

REDD-plus menambahkan tiga areal strategis terhadap dua hal yang telah ditetapkan sebelumnya di Bali. Kelima hal tersebut bertujuan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan di negaranegara berkembang. Dua ketetapan awal REDD adalah:

  • mengurangi emisi dari deforestasi dan
  • mengurangi emisi dari degradasi hutan

Beberapa strategi yang ditambahkan untuk mengurangi emisi melalui:

  • peranan konservasi
  • pengelolaan hutan secara lestari
  • peningkatan cadangan karbon hutan

Proposal REDD pada umumnya bertujuan mengurangi GRK dengan biaya serendah-rendahnya, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Proposalproposal tersebut dapat dievalusi berdasarkan kriteria 3E (Stern 2008): Apakah mekanisme ini mencapai target emisi GRK (efektivitas)? Apakah target dicapai dengan biaya serendah mungkin (efisiensi)? Bagaimana manfaat dan tanggung jawab tersebar di antara para pihak dan apakah manfaat tambahannya (ekuitas dan manfaat tambahan)?

Tantangan yang dihadapi oleh dunia internasional adalah memastikan bahwa skema yang akan diterapkan oleh UNFCCC dapat memberikan—dan tidak menutup—kesempatan bagi negara-negara berkembang untuk dapat melaksanakan REDD sehingga dapat membawa manfaat tambahan berkaitan dengan pemberantasan kemiskinan, perlindungan hak azasi manusia, dan jasa lingkungan nonkarbon, serta menghindari pengaruh yang merugikan.

 

 

\disampaikan sebagai tugas makalah Hukum Lingkungan- Rahayu Indah K

REFERENSI

Angelsen, A dan Atmedja S. Melangkah Maju dengan REDD; Isu, Pilihan dan Implikasi. 2010. CIFOR. Bogor. Indonesia

REDD Plus dalam Struktur Negosiasi global. Versi September 2011. Foundation for International Environmental Law and Development.

Indonesia and Climate Change; Current Status and Policy. 2007. PEACE

http://www.fairclimate.com/

http://www.cifor.org/publications/

http://unfccc.int/methods_science/redd

http://www.redd-indonesia.org/

http://cdmrulebook.org/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: